Pada Selasa, 18 Maret 2025 silam, tepat pukul 11.19 WIB, investor riuh marah-marah karena IHSG mengalami trading halt.
Yap, para investor ini tidak bisa melakukan trading saham seperti biasa karena pihak BEI memberlakukan pembekuan sementara pada sistem IHSG.
Pasalnya, IHSG bahkan anjlok hingga 6% yang tentunya berpotensi mengganggu pasar.
Memangnya, apa itu pengertian trading halt dan bagaimana rekam jejak sejarahnya di Indonesia yang ternyata sudah berkali-kali?
Ingat, jangan sepelekan trading halt ini karena keadaan IHSG justru menjadi cerminan perekonomian negara ini.
Apa Itu Trading Halt?
Pertama, pahami dulu apa itu IHSG. IHSG alias Indeks Harga Saham Gabungan adalah ukuran statistik yang memperlihatkan keseluruhan pergerakan harga seluruh saham gabungan yang tercatat di BEI.
Itulah kenapa, ada kata “gabungan” pada kepanjangan IHSG.
Peningkatan dan penurunan IHSG ini akan merefleksikan kondisi perkembangan emiten, pun dengan nilai portofolio saham milik para investor. Hal ini juga dipengaruhi bagaimana kondisi ekonomi Indonesia.
Jadi, mayoritas investor akan terus memperhatikan trafik IHSG untuk kesempatan trading saham.
Nah, trading halt adalah upaya penghentian sementara aktivitas perdagangan saham di bursa efek karena terjadi penurunan indeks dalam batas tertentu.
Biasanya, hal ini dipengaruhi karena peristiwa khusus yang meluas ke seluruh negara hingga berpotensi mengganggu pasar.
FYI, tindakan trading halt juga dilaksanakan di beberapa bursa saham di seluruh dunia. Misalnya Jepang, Korea Selatan, Cina, hingga Amerika Serikat.
Jadi, memang keputusan trading halt dilakukan oleh pihak bursa efek setiap negara. Jika di Indonesia, maka yang memiliki kewenangan untuk trading halt alias menghentikan sementara aktivitas perdagangan saham adalah BEI.
Baca Juga: 42+ Daftar Saham Teknologi di Indonesia yang Cocok Untuk Jangka Panjang
Apakah Trading Halt Ada Aturannya?
Tentu saja ada. Keputusan trading halt oleh pihak BEI juga bukan asal-asalan begitu saja, semuanya sudah diperhitungkan.
Aturan trading halt ini diatur bersama oleh OJK dan BEI berdasarkan Surat Perintah Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 2A OJK Nomor S-274/PM.21/2020. Aturan tersebut meliputi:
- Trading halt selama 30 menit, jika IHSG turun lebih dari 5% dalam sehari.
- Trading halt tambahan 30 menit, jika IHSG turun lebih dari 10%.
- Trading suspend (waktunya lebih lama), jika IHSG turun lebih dari 15%.
Sekalipun hanya 30 menit, jangan anggap sepele trading halt ini sebab justru menjadi cerminan situasi dan kondisi perekonomian negara.
Penurunan IHSG itulah yang menjadikan trafiknya berwarna merah. Jadi, banyak yang menyamakan situasi IHSG ini dengan kebakaran karena semuanya berwarna merah dan para investor tidak bisa bertindak apapun一kecuali menunggu keputusan BEI.
Kenapa BEI Melakukan Trading Halt?
Bagi pemula, pasti bertanya-tanya kenapa dan apa alasan BEI melakukan trading halt ini?
Kebijakan ini sengaja diambil supaya tetap menjaga stabilitas pasar sekaligus melindungi investor dari kerugian yang lebih besar karena mayoritas pas akan mengalami kepanikan jual.
Jadi, pihak BEI ini menghentikan IHSG sementara supaya para investor memiliki waktu untuk berpikir secara jernih terkait tindakan selanjutnya terhadap investasi mereka.
Jangan sampai karena IHSG ini anjlok, para investor langsung panic selling secara berlebihan yang malah membuat mereka rugi.
Memang tujuan BEI melakukan trading halt ini demi hal baik.
Namun, dari sudut pandang sebagian investor justru menimbulkan ketidakpastian sehingga akan mereka akan ragu untuk investasi lagi di IHSG一terutama investor asing.
Baca Juga: Fenomena UMA di Pasar Modal Indonesia, RATU Juga Kena!
Kenapa IHSG Bisa Anjlok?
Jika harga saham dari suatu emiten saja bisa anjlok, maka saham gabungan juga bisa demikian sehingga pihak BEI mau tidak mau harus mengambil tindakan trading halt.
Beberapa hal berikut ini yang menyebabkan IHSG bisa anjlok secara signifikan, sehingga pihak BEI harus melakukan trading halt demi keamanan portofolio investasi para investor.
1. Krisis Ekonomi Global
Kondisi ekonomi dunia jelas saja berdampak pada situasi pasar saham domestik. Mengingat investor di IHSG itu bukan hanya masyarakat Indonesia saja, tetapi juga investor asing.
Contohnya krisis ekonomi saat Covid-19 silam yang menyebar secara global, termasuk Indonesia.
2. Sentimen Negatif di Pasar Saham
Sentimen negatif di pasar saham biasanya turut dipengaruhi oleh bagaimana keputusan pemerintah dalam bidang ekonomi-politik. Selain itu, lonjakan inflasi dan naiknya suku bunga juga turut berpengaruh.
Jika sentimen negatif ini terus meningkat, para investor tentu akan menarik dana mereka di saham. Lalu, mereka beralih ke instrumen investasi lain yang lebih aman seperti emas atau obligasi.
Baca Juga: Saham PTRO - Profil, Kinerja Keuangan, Riwayat Dividen, dan Prospek Bisnisnya
Rekam Jejak Trading Halt di Indonesia
Indonesia sudah berkali-kali mengalami trading halt karena kondisi ekonomi-politik hingga Covid-19 yang mendunia.
Jadi, memang benar adanya jika kondisi global juga sangat berpengaruh pada IHSG karena investor tidak hanya dari masyarakat Indonesia (publik) saja, tetapi juga asing.
1. Tahun 1998 - Krisis Moneter
Pada 8 Januari 1998, IHSG anjlok hingga 12% dalam waktu sehari ke level 347.
Hal itu disebabkan karena terjadi krisis moneter di seluruh Asia, termasuk Indonesia.
Kala itu, nilai mata uang benar-benar jatuh di beberapa negara Asia seperti Thailand, Korea Selatan, hingga Indonesia.
Alhasil, pihak IMF turun tangan berupaya menstabilkan beberapa nilai mata uang di negara-negara yang terdampak tersebut一meskipun ternyata gagal.
Bagi masyarakat Indonesia sendiri, tahun 1998 menjadi catatan gelap hingga menyebabkan kerusuhan massa.
Kondisi yang tidak stabil baik dari global maupun domestik, menjadikan pihak BEI melakukan kebijakan trading halt.
2. Tahun 2000 - Ledakan Bom di Gedung BEI
Dua tahun setelah krisis moneter yang menyebabkan trading halt, terjadilah ledakan bom di gedung BEI.
Tepatnya pada 13 September 2000, pukul 15.17 WIB, terjadilah ledakan bom di gedung BEI.
Setelah diselidiki, ledakan tersebut berasal dari bom di mobil yang terparkir di tempat parkir P2 Gedung BEJ yang terletak di Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan.
Bom seberat 50 kg itu menewaskan 10 orang dan 34 orang mengalami luka-luka.
Akibat tragedi tersebut, pihak BEI melakukan trading halt selama 2 hari.
3. Tahun 2008 - Krisis Finansial Global
Pada 8 Oktober 2008, terjadi krisis finansial yang mendunia. Hal ini menyebabkan IHSG ambruk hingga 10,38% yang bahkan dikenal sebagai Black Wednesday.
Akhirnya, pihak BEI pun melakukan trading halt. Nilai transaksi hanya mencapai Rp988 miliar saja dengan frekuensi 27.494.
FYI, nilai ini dianggap terendah sejak September 2006.
Atas hal tersebut, presiden SBY menggelar rapat kabinet untuk membahas anjloknya bursa saham ini. Mengingat kala itu kondisi bursa global juga tengah anjlok.
4. Tahun 2020 - Covid-19
Pada tahun 2020, seluruh dunia mengalami wabah Covid-19. Indonesia tentu saja berdampak tidak hanya pada hal kesehatan saja, tetapi juga keuangan bursa.
Sejak 9 Maret 2020, pihak BEI melakukan trading halt sebanyak 7 kali karena IHSG menurun drastis, hingga 6,58%.
5. Tahun 2025
Pada Selasa, 18 Maret 2025 silam, tepat pukul 11.19 WIB, IHSG anjlok hingga 6%.
Pihak BEI pun melakukan trading halt dan hal ini menjadi perbincangan hangat di sosial media.
Melansir dari tempo com, penyebab IHSG ini anjlok hingga BEI harus trading halt ini karena banyak hal.
Mulai dari kebijakan pemerintah terkait pemangkasan APBN, hingga isu mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani, menyebabkan sentimen negatif.
Ditambah lagi, sentimen dari global seperti Presiden Rusia yang ingin perang, hingga kekhawatiran pasar terhadap resesi di AS.
Pada 24 Maret 2025 kemarin saja, IHSG sudah menurun lagi tetapi belum sampai trading halt.
Baca Juga: Saham ANTM - Profil, Kinerja Keuangan, Riwayat Dividen, dan Prospek Bisnisnya
Siap Berinvestasi Untuk Menumbuhkan IHSG?
Nah, itulah pembahasan tentang apa itu trading halt pada IHSG beserta penyebab dan rekam jejaknya di negara ini. Segala kebijakan pemerintah sangat berpengaruh pada keputusan BEI untuk melaksanakan trading halt, apalagi jika terjadi sentimen negatif.
Nah, kamu bisa juga ikut berinvestasi pada saham untuk turut menumbuhkan IHSG. Supaya tetap aman, pilihlah saham blue chip seperti BBCA dan ADRO yang mana dalam 5 tahun cenderung dapat memberikan return stabil.
Berhubung sekarang ini segalanya sudah serba canggih, maka kamu bisa membeli sekaligus memantau saham, reksa dana, maupun obligasi yang stabil hanya melalui aplikasi saja, salah satunya InvestasiKu.
Jangan khawatir sebab aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan OJK sehingga aman dan terpercaya. Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.